Saturday, October 15, 2011

'Basa Gede' sebagai Inti Bumbu dalam Kuliner Bali

Oleh: Ketut Gogonk Pramana

Budaya Bali berorientasi pada konsep gaya hidup yang berlandaskan pada teori keseimbangan. Segala tata laku kehidupan didasari oleh konsep tersebut, termasuk dalam bidang kuliner. Dalam kuliner Bali, kita mengenal istilah basa genep atau basa gede yang merupakan bumbu inti (mother souce) yang didasari oleh konsep kesetimbangan kosmos yang diistilahkan dengan catus pata alias pempatan agung.

Dalam konteks keruangan, catus pata atau pempatan agung diwujudkan dalam bentuk perempatan utama yang menjadi pusat orientasi setiap desa atau kota. Pusat catus pata merupakan titik nol dari bentangan sebuah wilayah.

Dalam pusaka kuliner Bali, catus pata terwujud dalam penentuan empat unsur utama dari basa gede alias bumbu inti (mother sauce) tadi. Keempat unsur utama tersebut adalah isen (laos), kunyit (kunir), jae (jahe), dan cekuh (kencur). Keempat bahan inilah yang menjadi ‘guru’ atau pokok dalam pembentukan basa gede. Selanjutnya, keempat unsur utama tersebut dilengapi dengan tiga unsur tambahan, dua unsur laut, dan satu unsur pengunci.

Jika dikaitkan dengan kosmologi, Isen (lengkuas) mewakili arah selatan karena berwarna merah. Dia adalah representasi Dewa Brahma. Kunyit (kunir) mewakili arah barat yang merupakan representasi dari Dewa Mahadewa. Jahe (hitam) mewakili arah utara merupakan representasi dari Dewa Wisnu. Cekuh (kencur) yang berwarna putih mewakili arah timur dan merupakan representasi dari Dewa Iswara.

Di dalam memadukan ke-empat unsur utama ini, para teta tidak menggunakan skala timbangan unutk mengetahui besaran jumlah masing-masing, melainkan dengan jari tangan. Ada pun pembagiannya sebagai berikut: jari tengah untuk isen (lengkuas), telunjuk untuk kunyit (kunir), jari manis untuk jahe, dan kelingking untuk cekuh (kencur).

Setelah mendapat jumlah dari gabungan ke-empat unsur di atas, setengah dari jumlah gabungan bahan-bahan tersebut merupakan besaran jumlah bawang merah. Setengah dari besaran bawang merah adalah besaran bawang putih yang diperlukan.

Selanjutnya, setengah dari besaran bawang putih merupakan jumlah besaran cabai. Setengah besaran cabai, merupakan jumlah besaran rempah-rempah.

Delapan unsur di atas merupakan perwakilan dari gunung, sedangkan garam dan terasi merupakan perwakilan dari laut. Sehingga ke-sepuluh unsure gabungan tersebut melambangkan pertemuan antara gunung dan laut, maskulin dan feminine.

Dalam kaitan menggabungkan ke-sepuluh unsur di atas, Belawa (juru masak) ‘meniupkan roh’ pada basa gede tersebut agar memunculkan cita rasa yang sempurna. Ini merupakan keahlian dalam seni kulinari yang menjadikan masakan terasa enak dan menyehatkan. Para tetua di Bali sangat yakin apabila seorang Belawa berhasil meramu ke-sepuluh unsur bumbu dengan sempurna maka dia akan melebur sebagai sebuah kekuatan yang berporos di tengah, yakni kekuatan Dewa Siwa. Kekuatan Siwa menjamin sanitasi dan menghindarkan makanan dari kontaminasi segala bentuk penyakit.

Dengan takaran di atas, maka bisa diduga bahwa rasa dari basa gede cenderung pedas (spicy). Kemungkinan hal ini sangat dipengaruhi oleh keyakinan Siwa-Buddha yang berorientasi pada Dewa Bairawa yang panas (spicy). Dari cerita ini kemudian kita mengenal sebutan Belawa untuk juru masak, yang belakangan berkembang menjadi Be Lawar. Lalu terjadi salah kaprah, Lawar menjadi sebutan untuk jenis makanannya, bukan pengolahnya.

Selengkapnya Read more...

Saturday, October 1, 2011

Film "Lampion-lampion" Juara Festival Film Kearifan Budaya Lokal

Oleh : Agung Bawantara

Setelah berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi di ajang Festival Film Dokumenter Bali (FFDB) 2011 di Denpasar, bulan Juli lalu, film “Lampion-lampion” karya Dwitra J. Ariana kembali dinobatkan sebagai film terbaik dalam Festival Film Kearifan Budaya Lokal yang diselenggarakan oleh Kementrian Budaya dan Pariwisata RI, menyisihkan 106 film dari berbagai daerah.

Penobatan juara dan penyerahan hadiah diselenggarakan di Gedung Film, Jakarta Timur, Jumat, 30 September 2011. Selain “Lampion-lampion”, film peserta asal Bali lainnya yang berjudul “Baris Cina” juga dinobatkan sebagai juara. Film produksi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Denpasar karya Gde Mantrayasa itu keluar sebagai juara ke-2.

Menyusul sebagai juara ke-tiga dan seterusnya adalah “Wayang Kampung Sebelah” (Surakarta), “Bidadari Turun Bumi” (Andy Prasetyo, Tegal), “Menjejok Smong” (Onny Kresnawan, Onny Kresnawan, Medan) dan”Lengeser Santi” (Bowo Leksono, Purbalingga). Satu film lain yang mendapatkan penghargaan khusus dewan juri adalah film “Pepadu” karya Kepala Bapedda NTB.

Selengkapnya Read more...

Friday, September 30, 2011

Pantai Geger yang Memesona

Oleh: Maria Ekaristi

Pantai Geger merupakan salah satu pesona Bali yang membuat banyak pelancong ingin mengunjungi pulau nan permai ini. Tidak seperti pantai lain yang padat dan ramai, Pantai Geger teramat tenang. Pasir pantainya yang putih bersih yang terbentang hingga beratus-ratus meter panjangnya tampak seperti hamparan permadani yang ramah menyambut pelancong yang ingin berbaring dan berjemur di atasnya. Hal ini karena di seputar kawasan tersebut tidak dipadati toko kerajinan, rumah makan, café, apalagi diskotik yang ingar bingar seperti yang terlihat di beberapa pantai terkenal macam Kuta, Legian dan Seminyak.

Penyebab lain adalah karena letak pantai ini tersembunyi dan jauh dari jalur umum. Keheningan dan keindahan lekuk-lekuk karang di bibir pantai yang berombak tenang itu membuat suasana menjadi begitu romantis. Tak heran jika Pantai Geger menjadi salah satu tempat favorit bagi pasangan yang baru untuk menikmati masa bulan madu mereka. Biasanya, pasangan-pasangan pengantin baru tersebut sangat gemar berbaring bersama di hamparan pasir yang butirannya besar-besar macam butiran merica.

Selain berjemur, kegiatan wisata yang dapat dilakukan di pantai ini adalah berenang dan memancing. Terutama jika air pantai sedang surut. Batu-batu karang yang menyuat tampak seperti titian yang sengaja disediakan untuk masuk ke dalam dan menikmati pemandangan bawah air yang memesona. Baik pagi atau sore hari air pantai ini terasa hangat. Hal mana membuat banyak pelancong betah mandi berlama-lama di situ.

Satu hal lain yang banyak menarik turis ke pantai ini adalah terdapatnya wisata mengendarai unta mengelilingi pantai.

Lokasi
Pantai Geger terletak di sisi selatan Pulau Bali, tepatnya di desa adat Peminge, Sawangan. Tak begitu sulit untuk pantai ini. Dari Kuta, ikutilah jalan yang menuju ke Nusa Dua. Di traffic light terakhir sebelum gerbang menuju Kawasan Pariwisata Nusa Dua yakni kompleks ekslusif milik Bali Tourism Development Corporation (BTDC) berbeloklah ke kanan. Jika anda menemukan penunjuk arah jalan bertuliskan "Pantai Geger", jangan ikuti. Lewati saja. Akses tersebut memang bisa membawa Anda ke pantai tujuan, tetapi jalan itu masih belum baik kualitasnya. Sepanjang jalan penuh lubang dan onggokan baru karang sehingga jalanan jadi penuh gerunjal. Jadi, ikuti saja jalan utama hingga Anda menemukan Hotel Nikko. Sekitar 500 meter dari hotel tersebut terdapat jembatan kecil. Nah, berbeloklah ke kiri sebelum jembatan tersebut. Hanya sekitar 200 meter dari situ Anda sudah menjumpai pantai yang indah tersebut.

Fasilitas
Sebagian wilayah Pantai Geger merupakan pantai esklusif milik Hotel Nikko Bali. Jadi fasilitas-fasilitas yang terdapat di situ hanyalah diperuntukkan bagi tamu hotel tersebut. Pelancong yang bukan tamu Hotel Nikko yang berenang di pantai itu harus bersiap untuk tidak membilas tubuh sebab sarana itu tak terdapat untuk umum.

Incaran Investor
Keindahan pantainya yang memesona membuat kawasan ini menjadi incaran para investor dari berbagai negara. Para pemilik uang itu berlomba-lomba berupaya menguasai kawasan tersebut dengan berbagai cara. Setelah menguasainya, mereka kemudian membangun fasilitas ekslusif bagi pelancong kelas atas. Namun, dalam pengembangannya, tak semua investor tersebut mematuhi aturan yang berlaku. Banyak di antara mereka yang melanggar aturan Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah yang ditetapkan oleh Pemerintah Bali.

Salah satu contohnya adalah recana pembangunan Hotel Mulia yang menghancurkan beberapa bukit kapur. Yang menarik, pemilik uang dari proyek yang ditengarai menabrak aturan perlindungan terhadap lingkungan hidup di kawasan itu, adalah Djoko Soegiarto Tjandra yang merupakan buronan yang terait dalam penggelapan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia sebesar Rp546 Milyar.

Selengkapnya Read more...

Sunday, September 25, 2011

144 Undangan dan Partisipan akan Hadiri UWRF 2011

Oleh: Agung Bawantara

Bagi para penulis di berbagai belahan dunia, rupanya Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) dicatat sebagai ajang tahunan yang penting untuk dihadiri. Ini terlihat dari atusiasme peserta untuk hadir dan terlibat dalam festival bergengsi yang tahun ini akan dihelat pada 5-9 Oktober mendatang. Yang menarik, seperti tahun sebelumnya, peserta luar negeri masih didominasi oleh para penulis asal Australia. Menurut catatan panitia, dari 144 peserta dan partisipan yang akan hadir, 43 orang berasal dari negeri itu. Hanya menyusut tipis dari tahun sebelumnya yang mencapai 49 orang. Belum ada pengamatan khusus soal ini. Dugaan sementara, hal ini disebabkan oleh kedekatan geografis negara bersangkutan. Juga karena arus informasi tentang UWRF mula-mula mengalir relatif lebih deras ke negeri itu di banding ke negara lain. Maklum, Janet de Neefe, penggagas festival ini berasal dari Australia.

Dari tanah air sendiri, jumah peserta dan pasrtisipan yang memeriahkan UWRF 2011 berjumalh 42 orang. Dari jumlah tersebut 15 di antaranya merupakan penulis-penulis yang diundang melalui proses kurasi.

“Mereka berasal dari berbagai daerah di nusantara. Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, serta NTB. Semua terwakili dalam jajaran para penulis terpilih ini,” ujar Manajer Pengembangan Komunitas UWRF Kadek Purnami, pada sebuah perbincangan dengan media awal Juni 2011.

Para penulis itu adalah Alan Malingi (Bima), Arafat Nur (Aceh), Aulia Nurul Adzkia (Ciamis), Budy Utamy (Riau), Fitri Yani (Bandar Lampung), Ida Ahdiah (Tangerang), Irianto Ibrahim (Kendari), Pinto Anugrah (Padang), Ragdi F. Daye (Padang), Rida Fitria (Lumajang), Sandi Firly (Banjarmasin), Sanie B. Kuncoro (Solo), Saut Poltak Tambunan (Jakarta), Satmoko Budi Santoso (Yogyakarta), dan Wahyudin (Banten).

Para penulis tersebut dipilih dalam sidang Dewan Kurator UWRF 2011 yang berlangsung di Sanur akhir Mei lalu. Dewan Kurator beranggotakan empat penulis senior, yaitu Kurnia Effendi (Jakarta), Iyut Fitra (Payakumbuh), Dorothea Rosa Herliany (Magelang), dan Made Adnyana Ole (Bali). Oleh kurator, para penulis dipilih berdasarkan kriteria tertentu yang mencerminkan keragaman latar budaya, bentuk karya dan gaya ungkap. Semua itu diharapkan akan melahirkan dialog yang hangat dan saling memperkaya saat para penulis tersebut berkumpul di Ubud.

Menurut Kadek Purnami para penulis terpilih itu diseleksi dari sekitar 235 penulis yang telah mengajukan karya-karyanya ke panitia UWRF 2011. “Tahun ini jumlah penulis yang mengikuti seleksi meningkat luar biasa. Dua kali lipat lebih dibandingan dengan tahun lalu yang ‘hanya’ mencapai 105 penulis,” ujarnya sembari memaparkan bahwa para penulis yang mengirim karyanya untuk proses seleksi tahun ini berasal dari 60 kota di Indonesia. Hal itu, menurutnya, menunjukkan bahwa UWRF telah berhasil menjadi salah satu ajang kesusastraan yang paling dikenal di Indonesia.

Sebagai penghargaan, selain diundang ke Ubud untuk menghadiri UWRF 2011, karya-karya 15 penulis yang terpilih tersebut akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi bersama festival. Tradisi penerjemahan dan penerbitan buku karya peserta terpilih tersebut telah dilakukan panitai UWRF sejak 2008. Hingga saat ini telah terbit tiga antologi yakni “Reasons for Harmony”, “Compassion and Solidarity”, dan “Harmony in Diversity”.

“Buku-buku ini telah dikirim ke berbagai universitas dan pusat penulisan di luar negeri untuk lebih memperkenalkan sastra Indonesia ke tataran global,” papar Purnami.

Tahun ini, UWRF mengangkat tema “Nandurin Karang Awak” atau “Cultivate The Land Within” yang terinspirasi oleh puisi tradisional karya mendiang Ida Pedanda Made Sidemen, pendeta-pujangga terbesar Bali di abad ke-20. Kemungkinan tema tersebutlah yang sekaligus akan menjadi judul antologi yang akan diterbitkan nanti.


Nama-nama Peserta dan Partisipan UWRF 2011:

Argentina
1. Alberto Manguel

Australia
1. Alex Miller
2. Alicia Sometimes
3. Andrew Fowler
4. Anita Heiss
5. Anna Maguire
6. Benjamin Law
7. Bill Dalton
8. Brenda Walker
9. Brian Thacker
10. Chris Hammer
11. Christopher Warren
12. Corinne Grant
13. Fiona Caulfield
14. Geoff Lemon
15. Gregory Day
16. Jan Latta
17. Jaya Savige
18. Jemma Purdey
19. Jennifer Byrne
20. John Mateer
21. Kelly Lee Hickey
22. Linda Frylink Anderson
23. Lucky Oceans
24. Malcolm Smith
25. Marieke Hardy
26. Martine Murray
27. Maurice O’riordan
28. Meg Mundell
29. Meredith Costain
30. Michael Bliss
31. Mike Carlton
32. Miranda Darling
33. Paul Kelly
34. Paul Collins
35. Phillip Gwynne
36. Rebecca Starford
37. Rosemary Sayer
38. Russell Eldridge
39. Sean Whelan
40. Simone Lazaroo
41. Steve Grimwade
42. Summa Durie
43. Trevor Shearston

Cambodia
1. Cambodian Space Project
2. Juan Gabriel Vasquez

Cuba
1. Edel Rodriguez

Denmark
2. Janus Kodal

Egypt
3. Khaled Alkhimissi

France
4. Francois Lelord

Germany
5. Horst Geerken
6. Thorsten Becker

Hong Kong
1. Janice Lee
2. Nury Vittachi
3. Rob Lilwall
4. Stephen Mccarty


India
1. Aneesha Capur
2. Dipika Rai
3. Kunal Basu

Indonesia
1. Agustinus Wibowo
2. Alan Malingi
3. Alia Swastika
4. Andrea Hirata
5. Anom Darsana
6. Arafat Nur
7. Arief “Ayip” Budiman
8. Avianti Armand
9. Budy Utamy
10. Debra H Yatim
11. Djenar Maesa Ayu
12. Fitri Yani
13. Gouri Mirpuri
14. Heinz Van Holzen
15. Ida Ahdiah
16. Irianto Ibrahim
17. Jaladara
18. Julia Suryakusuma
19. Jumaadi
20. Kadek Sonia Piscayanti
21. Ketut Yuliarsa
22. Lily Yulianti Farid
23. Luna Vidya
24. Marlowe Bandem
25. Marzuki Muhammad
26. Ni Komang Ariani
27. Noor Huda Ismail
28. Pinto Anugrah
29. Putu Wijaya
30. Ragdi F. Daye
31. Rida Fitria
32. Rio Helmi
33. Rosa Herliany
34. Rudolf Dethu
35. Sandi Firly
36. Sanie B Kuncoro
37. Satmoko Budi Santoso
38. Saut Poltak Tambunan
39. Sugi Lanus
40. Tamalia Alisjahbana
41. Trinity
42. Wahyu Arya


Ireland
1. John O’ Sullivan

Japan
2. Eiji Han Shimizu
3. Jeff Kingston
4. Mariko Nagai

Malaysia
1. Sharon Bakar
2. Uthaya Sankar Sb

Malta
1. Norbert Bugeja

Mexico
2. Marcela Romero Garcia


Netherlands
1. Rodaan Al Galidi

New Zealand
1. Albert Wendt
2. Peta Mathias
3. Siobhan Harvey

Pakistan
1. Daniyal Mueenuddin
2. Tariq Ali

Palestinian Territories
1. Izzeldin Abuelaish

Rusia
1. Oleg Borushko
2. Oleksandr Chernov

Singapore
1. Nessa Kartika
2. Thiam Chin

Sri Lanka
1. Shehan Karunatilaka

Turkey
2. Oya Baydar

Uganda
3. Mohezin Tejani

United Kingdom
1. Alexander Mccall Smith
2. Dbc Pierre
3. Iain Bamforth
4. Salena Godden
5. Sue Jones

United States
1. Arthur Flowers
2. Chris Abani
3. Hassan Ansah
4. James Oseland
5. Jamie James
6. Jan Reynolds
7. Janet Steele
8. Junot Diaz
9. Kirk Johnson
10. Linda Watanabe Mcferrin
11. Melanie Westerberg
12. Michael Vatikiotis
13. Shirley Lim
14. Sidney Jones
15. Stephen Haven
16. Steve Lansing

Selengkapnya Read more...

Saturday, September 24, 2011

DOK, Sambil Nongkrong Kili Kreativitas

Ini tempat kongkow malam minggu yang menarik bagi anda yang kebetulan mukim sementara di Bali baik dalam rangka liburan panjang atau tugas khusus seperti survey, penelitian, dan lain sebagainya. Di situ anda dapat nongrkong dan menikmati soto ayam sembari menyimak pementasan-pementasan kecil kesenian yang ditampilkan oleh para pegiat seni di Kota Denpasar plus diskusi seputar proses kreatif yang melatar belakangi karya-karya tersebut. Tempat tersebut adalah Warung Tresni yang bertempat di Jalan Drupadi, Denpasar.

Ya, setiap Sabtu Malam di warung makan yang terkenal denga sajian tipat kuahnya tersebut selalu digelar beragam karya kreatif yang diprakarsai oleh komunitas yang menamakan diri Dapur Olah Kreatif (DOK) Denpasar. Komunitas tersebut adalah sebuah komunitas kreatif yang menyediakan wahana bagi lahir, tumbuh dan berkembangnya kreativitas seni di Kota Denpasar. Komunitas ini terdiri dari berbagai jenis kesenian dan melingkupi beragam genre di dalamnya. Semangat yang diusung oleh komunitas ini adalah “berbagi dan menjadi”. Dengan semangat tersebut segala hal yang berkaitan dengan kreativitas berkesenian dengan mudah dipercakapkan dan dipertukarkan. Muara akhirnya adalah bertumbuhnya karya-karya kreatif yang bermutu dan memuliakan kehidupan.

Kegiatan Dapur DOK Denpasar melingkupi beberapa bidang kesenian yakni Seni Sastra & Pertunjukan, Seni Media Rekam, Seni Musik, dan Seni Rupa. Masing-masing bidang tersebut mendapat kesempatan untuk tampil sebulan sekali pada Sabtu malam. Di luar bidang seni tersebut, disisipkan acara-acara menarik yang berkaitan dengan Seni Kulinari.

Beberapa programDOK Denpasar yang akan digelar sejak Oktober 2011 hingga Oktober 2012 antara lain: apresiasi dan diskusi sastra; pemutaran dan diskusi video dokumenter, video clip indie, pertunjukan dan diskusi musik, peluncuran buku, pameran dan diskusi kartun, pentas musikalisasi puisi, dan banyak lagi.

"Dapur Olah Kreatif bukan hanya wadah bagi para pendekar seni kawakan, namun juga terbuka bagi para pendekar yang baru menguasai beberapa jurus kesenian," ucap Wayan "Jengki" Sunarta salah satu motor penggerak kegiatan ini.

Komunitas yang berada di bawah naungan Walikota Denpasar ini dimotori oleh para seniman kawakan macam Putu Indrawan (Musisi yang pernah meraih gelar Bassist Terbaik Indonesia dalam Festival Rock di Surabaya 1985), Tan Lioe Ie (Penyair penting di Bali yang kerap menghadiri berbagai forum Sastra di beberapa negara Eropa, Afrika dan Asia), I Wayan "Jengki" Sunarta (penyair berbakat yang telah melahirkan beberapa buku dan memenangi berbagai penghargaan sastra), Kadek Jango Paramartha (mantan Ketua Persatuan Kartunis Indonesia), Erick EST (Sutadara Video Clip dan Film Pendek yang beberapa karyanya sempat memenangi penghargaan tingkat nasional maupun internasional), Iwan Dharmawan (fotografer dan novelis yang banyak menggerakkan berbagai aktivitas fotografi di Bali), Maria Ekaristi (penulis buku dan organisator beberapa event kesenian di Bali), dan Agung Bawantara (Penulis).

Selengkapnya Read more...

Thursday, September 22, 2011

Surfing Anak-anak di Pantai Kuta

Oleh : Maria Ekaristi & Agung Bawantara

Pesona meliuk-liuk di atas ombak rupanya tak hendak dinikmati sendiri oleh pecinta olahraga surfing (selancar). Mereka selalu berusaha menyebar informasi dan membuat berbagai acara untuk menarik minat-minat baru terhadap olahraga ini. Tidak hanya kepada remaja dan orang dewasa, mereka pun mencoba merangkul peminat dari kalangan anak-anak. Satu di antara banyak jalan mereka untuk itu adalah menyelenggarakan Kontes Surfing Anak-anak di Pantai Kuta yang diselenggarakan pada Minggu, 25 September 2011.

Acara ini merupakan kerja bareng yang diprakarsai Magicwave Surfing Championship (MSC) dengan Gran Istana Rama, Kuta Radio, Freshmoney, Surfer's Paradise, Rusty, Billabong, Surfer Girl, Jungle Surf, Ekuator Kopi Bali, dan Double D Surf School, yang didukung sepenuhnya oleh Kementrian Pariwisata Republik Indonesia.

Anak-anak yang diperkirakan akan turut dalam ajang ini berasal dari latar belakang yang beragam. Ada dari kalangan penduduk lokal, ada dari kalangan ekspatriat, ada juga dari pelancong yang tengah berlibur di Bali bersama keluarganya.

“Melihat kecenderungan yang ada di tempat pendaftaran, peserta kami perkirakan mencapai 90 - 130 anak-anak,” ujar Piping salah satu sesepuh surfer Bali yang getol memajukan olehraga ini.

Animo yang besar tersebut, menurut Piping selain karena cuma-cuma, juga karena olah raga ini sudah mulai dikenal di kalangan anak-anak. Sebab pada tahun-tahun sebelumnya, acara ini sudah pernah digelar beberapa kali.

“Ini penyelenggaraan yang ke empat sejak 2008,” imbuh Piping.

Menurut Piping, inilah satu-satunya kontes surfing anak-anak yang berkseinambungan setiap tahun. Dan, yang menarik, karena kegiatan ini kini diadakan pushing division yaitu kegiatan yang membantu para peserta mengayuh papannya.

“Ini karena anak-anak itu masih belum sanggup mengayuh sendiri untuk mendapat ombak yang besar, jadi perlu bantuan orang lain,” ucap Piping mengakhiri perbincangan.


Selengkapnya Read more...

Saturday, September 17, 2011

Berpose di Tirai Air Tukad Unda


Oleh : Agung Bawantara

Tukad (Sungai) Unda adalah sebuah sungai yang membentang di kawasan timur Kabupaten Klungkung. Dari Kuta, letak bentangan sungai ini sekitar 46 kilometer ke arah timur. Dinamakan Tukad Unda karena dari hulu hingga hilir terdapat kelompok-kelompok bebatuan yang menyebabkan aliran air sungai berpindah-pindah dari ceruk satu ke ceruk yang lain. Seperti sebuah rangkaian estafet yang sambung-menyambung. Dalam bahasa Bali hal itu dinamakan unda (“a” di akhir kata dibaca “e” seperti pada “episode”). Tukad ini merupakan kelanjutan dari Tukad Telaga Waja yang bersumber di kaki Gunung Agung.

Tukad Unda memberi banyak manfaat bagi warga setempat. Di hulu tukad ini terdapat wahana rafting yang cukup menantang. Di bagian tengahnya terdapat penambangan pasir, kerikil dan batu kali untuk bahan bangunan. Di situ pula terdapat bendungan panjang yang limpahan airnya tampak memesona. Limpahan air dari bendungan yang cukup tinggi itu sangat bagus digunakan sebagai latar belakang pemotretan. Air tersebut tampak seperti tirai putih yang fantastik. Sejak 2003 banyak fotografer mengeksplorasi kawasan ini sebagai obyek maupun latar belakang pemotretannya. Dari sekian banyak, sebagian dari fotografer itu berhasil memenangi hadiah dan medali dalam berbagai lomba fotografi.

Selain untuk foto salon, kawasan bendungan ini juga kerap dijadikan sebagai latar belakang pembuatan foto pre-wedding. Karena kerapnya, anak-anak di kawasan itu menangkap peluang mendapatkan uang dari aktivitas fotografi tersebut. Mereka langsung berkerumun dan menawarkan diri begitu melihat fotografer datang. Mereka menawarkan diri sebagai obyek yang dapat disuruh untuk melakukan berbagai aksi untuk kepentingan pemotretan. Mereka memasang bandrol Rp5 ribu sekali lompat.

Menuju Tukad Unda
Sangat mudah menemukan lokasi sungai dan bendungan ini. Dari Kuta, mula-mula anda menuju Denpasar. Dari Simpang enam Dewa Ruci (terkenal dengan sebutan Simpang Siur) menujulah ke arah by pass. Turutkan saja jalan itu hingga anda menemukan gerbang jalan By Pass Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Terus turutkan jalan itu. Setiba di Klungkung, tepat di pertigaan pantai Lepang, berbeloklah ke kiri menuju Kota Semara Pura. Dari perempatan utama kota tersebut teruslah menuju arah Goa Lawah. Kira-kira tiga kilometer dari situ anda akan tiba pada jembatan panjang yang memotong sungai itu. Sebelum masuk jembatan, anda akan menemukan simpang empat dengan patung Sang Jogor Manik di tengah-tenganya. Perempatan tersebut tidak simetris. Dia agak menyerong seperti percabangan pada pohon. Masuklah ke jalan yang tengah. Sekitar 200 meter dari situ anda akan berjumpa dengan bendungan yang indah itu.


Selengkapnya Read more...

Thursday, September 1, 2011

Melihat Mola mola di Lembongan

Oleh: Maria Ekaristi

Mola mola adalah spesies ikan laut yang berasal dari perairan tropis dan subtropis di seluruh dunia. Bentuknya bulat dan pipih dengan dua sirip panjang terdapat di bagian perut dan punggungnya. Dalam bahasa Inggris ikan ini disebut sunfish (ikan matahari) karena kegemarannya berjemur di terik matahari. Menurut catatan para ahli Australian MuseumIchthyology, Mola mola tersebar di seluruh dunia khususnya di perairan yang bersuhu hangat. Biasanya, ikan ini menghabiskan sebagian waktunya di perairan laut dalam samudera yang dingin,lalu naik ke permukaan yang hangat untuk mengembalikan suhu tubuhnya.

Ukuran Mola-mola bisa mencapai panjang satu meter. Ikan ini memiliki berat rata-rata satu ton. Namun pada 1908 pernah ditemukan Mola mola raksasa yang tersangkut pada baling-baling sebuah kapal uap di perairan Sydney. Panjang Mola mola 3,1 meter, sementara tingginya 4,1 meter.

Kulit Mola mola tidak bersisik melainkan licin dan mempunyai lapisan seperti cangkang dengan ketebalan sekitar 7,5 cm. Menurut beberapa penelitian, cangkan ikan ini tidak tertembus oleh peluru.

Mola mola bergerak sangat lamban. Sebagian ahli menggolongkan ikan ini ke dalam jenis plankton karena cara berenang ikan ini yang tidak bisa melawan arus dan cenderung terbawa arus. Makanan kesukaannya adalah ubur-ubur.

Berbeda dengan ikan lain, Mola mola nyaris tidak memiliki sirip ekor (caudal fin) tetapi Mola mola justru memiliki clavus, yang merupakan bentuk sambungan antara sirip atas yang terdapat di punggung dan sirip bawah yang terdapat di perut. Clavus itulah mengambil alih posisi sirip ekor. Clavus tersebut berbentuk pendek, melebar, serta membujur di bagian bawahnya. Para ahli menyebut bentuk ini dengan sebutan ossicles. Beberapa karakter yang membedakan spesies ini dari empat anggota famili yang sama adalah jumlah ossicles dan perbedaan gurat sisi yang tampak pada bagian posterior (sirip atas) serta di bagian akhir tubuhnya dimana denticles (struktur tubuh) pada kulit berubah drastis dari kasar hingga sangat lembut.

Mola mola cenderung tidak berbahaya bagi manusia tetapi pada beberapa kasus, ikan matahari bisa menyebabkan kapal tenggelam. Hal itu diebabkan karena ikan tersebut bergerak sangat lambat sehingga tidak dapat menghindar ketika ada kapal melintas.

Mola mola punya kebiasaan membersihkan diri secara berkala untuk mengusir sekitar 40 jenis parasit yang menempel di tubuhnya. Untuk membersihkan tubuhnya itu, Mola mola keluar dari perairan dalam menuju tempat yang lebih dangkal dan nyaman. Di situlah tubuhnya yang tambun itu kemudian dikerubungi oleh ikan pembersih (cleaner fish) dari golongan wrasse dan butterfly. Di Bali, biasanya pemandangan ini terjadi pada bulan Juni sampai Oktober yakni di perairan Nusa Lembongan, sekitar Blue Corner dan Crystal Bay. Kadang ikan ini terlihat di perairan Topekong, Candi Dasa.

Selengkapnya Read more...

Wednesday, July 20, 2011

“Lampion-Lampion” Juara Festival Film Dokumenter Bali (FFDB) 2011

Film “Lampion-lampion” yang mengisahkan kehidupan masyarakat Desa Lampu di Kabupaten Bangli, memenangi lomba pada Festival Film Dokumenter Bali (FFDB) 2011. Film dokumenter karya Dwitra J. Ariana yang didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangli itu mengisahkan kehidupan bertoleransi masyarakat suku Bali dan suku Tionghoa yang sudah berjalan turun temurun. Di desa tersebut, kedua suku tersebut hidup berdampingan secara rukun. Keduanya saling tolong menolong antara satu dengan yang lainnya. Sekalipun minoritas, masyarakat, Suku Tionghoa punya peluang yang sama dengan Suku Bali untuk menduduki jabatan puncak di banjar adat maupun di desa. Jika ada upacara adat Bali, masyarakat Suku Tionghoa berbaur dengan masyarakat Bali untuk melaksanakan dan merayakannya. Jika ada masyarakat Suku Tionghoa meningggal, masyarakat Suku Bali terjun membantu meringankan beban keluarga yang berduka. Dari sejak mebuat upakara hingga menggali liang lahat.

FFDB sendiri adalah sebuah ajang bagi para pembuat film dokumenter di seluruh Indonesia untuk memperlombakan karyanya. Festival ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali yang merupakan salah satu mata acara unggulan Pesta Kesenian Bali (PKB) 2011. Festival ini merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya, acara ini bernama Lomba Film Dokumenter Bali (LFDB). Saat itu peserta yang dilibatkan hanya menyakup wilayah Bali saja. Setelah karya-karya hasil lomba tersebut disertakan lagi pada lomba tingkat nasional di Jakarta, ternyata karya-karya dari Bali mendominasi. Mereka memborong trophy untuk Juara I, II, dan Harapan I. Karena sukses tersebut, pada tahun 2011 LLDB dikembangkan menjadi FFDB yang disamping menggelar lomba dan pemutaran karya-karya peserta juga menyelenggarakan serangkaian pelatihan di seluruh kabupaten/kota di Bali.

Pada festival ini seluruh karya yang ikut serta berasal dari berbagai daerah di Indonesia, yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali sendiri. Seluruhnya ada 34 karya, melonjak dua kali lipat lebih dari tahun tahun sebelumnya yang hanya 14 karya. Dari keseluruhan karya yang masuk, sebagian besar peserta mengikuti kategori profesional. Hanya lima peserta yang mengikutkan karyanya dalam kategori ponsel.

“Hal ini kemungkinan disebabkan karena lomba dilaksanakan berdekatan dengan waktu persiapan ujian nasional dan ulangan umum,” duga Agung Bawantara, kordinator pelaksana harian FFDB 2011 ini.

Di lain sisi, Agung Bawantara menduga tingginya animo para pembuat film dokumenter untuk menyertakan karyanya dalam festival ini adalah kerena nama besar Bali dan nama-nama penting yang menjadi dewan juri. Para anggota dewan juri festival ini memang terdiri dari nama-nama beken yakni Dr. Lawrence Blair, Slamet Rahardjo Djarot, Rio Helmi, Prof. Dr. I Wayan Dibia, dan Hadiartomo.

Selain "Lampion-Lampion”, karya lain yang keluar sebagai juara pada festival kali ini adalaj "Opera Batak" karya Andi Hutagalung dari Kota Medan - Sumatera Utara. Film dokumenter ini berkisah tentang pasang-surut sebuah seni pertunjukan opera di Batak. Bagaimana kesenian tersebut sempat jaya kemudian tersisih dan kini mencoba bangkit kembali.
Juara tiga dimenangi oleh film "Seni Budaya Antara Realita dan Harapan” karya Putu Widana Yuniawahari yang disponsori oleh Disbudpar Kabupaten Klungkung. Film ini mengisahkan tentang anak-anak di sebuah desa terpencil di dekat tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Klungkung. Mereka mempelajari seni budaya Bali sembari mengais-ngais sampah untuk membantu ekonomi keluarga mereka.
Juara Harapan diberikan kepada film yang berjudul "Baris Jangkang" karya siswa SMKN 1 Mas Ubud, Gianyar, yang memaparkan tentang asal-usul dan kehidupan tari tradisi Baris Jangkang yang sacral di Nusa Penida.

Sementara untuk kategori ponsel, yaitu karya yang dibuat dengan kamera telepon seluler, yang tampil sebagaijuara adalah “Asal- usul Wong Perahu Desa Adat Merita” karya siswa SMK PGRI Karangasem. Juara I dan II untuk kategori ini dinyatakan tidak ada karena tak ada karya peserta yang memenuhi standar yang ditentukan oleh dewan juri.

Selengkapnya Read more...

Hotel di Kuta

Apartemen & Kondotel
Benit Apartement
Umalas Residence

Hotel Bintang Lima
Hard Rock Hotel
Patra Resort & Villas Bali

Hotel Bintang Empat
Kuta Beach Club Hotel
Inna Kuta Beach Hotel
Mercure Kuta Hotel
Novus Bali Villa
Kuta Seaview Cottages
Ramayana Resort & Spa
The Rani Hotel & Spa
Wina Holiday Villa Kuta

Hotel Bintang Tiga
Adi Dharma Hotel
Aneka Kuta Wisata
Bali Garden Beach Resort
Harris Resort Kuta
The Bounty Hotel
Yulia Beach Inn Kuta
Melasti Beach Resort & Spa
Puri Damai Cottage

Hotel Bintang Dua
Bali Anggrek
The Losari Kuta Bali
Yulia Beach Inn

Melati Tiga
Bakung Sari Hotel
Bali Summer Hotel
Indah Beach Inn
Karthi Hotel Kuta
Maharani Hotel

Melati Dua
Kodja Beach Inn Hotel
Masa Inn
Orchid Garden Cottages
La Walon Bungalows
Puri Naga Seaside
Surya Beach Inn
Lili Garden Cottages

Hotel di TUBAN (SELATAN KUTA)

Bintang Lima
Discovery Kartika Plaza Hotel
Kuta Paradiso Hotel Bali

Bintang Empat
Bali Dynasty
Kupukupu Barong Beach Resort
Ramada Bintang Resort
Santika Beach Hotel

Bintang Tiga
Bali Garden
Febri's Hotel & Spa
Green Garden Beach Resort & Spa
Palm Beach Int'l Hotel & Resort
Rama Beach Resort & Villas
Risata Resort
The Vira Bali Hotel

Hotel di Jimbaran

Bintang lima & Empat
Blue Point Bay Villas
Taman Sari Villa & Spa
Jamahal Private Resort & Spa
The Ahimsa Beach
The Balangan Private Villas
Gending Kedis Luxury Villa
Pat-Mase Villas
The Beverly Hills Bali

Bintang Tiga
Jimbaran Puri Bali
Keraton Jimbaran Resort Bali
Hotel Puri Bambu
Mimpi Resort Jimbaran
Nirmala Hotel & Resort
Sari Segara Resort
Udayana Eco-Lodge
Uluwatu Resort
Villa Puri Royan

Hotel di TANJUNG BENOA

Bintang Lima
Aston Bali & Spa
Bali Tropic
Conrad Bali Resort & Spa
Grand Mirage
Matahari Terbit Bali
Melia Benoa Bali
Novotel Benoa Bali
Paninsula Beach Resort
Puri Benoa
Puri Tanjung
Ramada Resort Benoa

Hotel di SEMINYAK

Bintang Lima
Anantara Resort
Sentosa Private Villas & Spa
Sofitel Hotel
The Elysian Bali Villas Resort
The Oberoi Bali Hotel
The Kayana Villas
The Chez Bali Villa

Bintang Empat
Mutiara Bali Boutique Resort & Villa
Villa Lalu
The Bali Dream Villa Seminyak
The Villas Bali Hotel & Spa
Intan Bali Village
Maya Loka Villas
Puri Saron
The Samaya
Wana Villas & Beach Resort

Bintang Tiga
Bali Agung Village
Bali Mistique
Bali Rich Luxury Villa (ex Villa Kendil)
Pelangi Bali Hotel
Puri Madawi
Putu Bali Villa & Spa
Seminyak Suites
Taman Rosani Hotel
The Umalas Resort
Taman Ayu Cottage
Vila Lumbung Hotel

Bintang Dua
Puri Dewa Bharata Hotel & Villas

Melati Tiga dan Dua
Ananda Boutique Resort & Spa
Sarinande Beach Inn
Seminyak Paradiso
Wisma Bima
Wisma Bima Cottage

Hotel di Canggu

Bintang Empat
Tugu Hotel
Legong Keraton
Villa Fare Ti'i

Hotel di Sanur

Hotel Bintang Lima
Bali Hyatt
Inna Grand Bali Beach
Sanur Beach Hotel

Hotel Bintang Empat & Tiga
Diwangkara
Gazebo Cottage
Griya Santrian
Inna Natour Sindhu
Mentari Sanur
Parigata Resort & Villas Group
Puri Dalem
Puri Santrian
Mercure Resort Sanur Bali
Sanur Paradise Plaza Suites
Sanur Paradise Plaza Hotel
Sativa Sanur
Segara Village Hotel
Tanjung Sari

Hotel di Nusa Dua

Hotel Bintang Lima
Amanusa
Ayodya Resort & Spa
Bali inter Continental
Bali Cliff Resort
Bvlgari
Four Season Resort
Grand Hyatt Bali
Melia Bali Sol
Nikko Bali
Nusa Dua Beach Hotel
Inna Putri Bali Hotel
The Laguna
The Ayana
The Westin

Hotel Bintang Empat & Tiga
Bale Bali
Bali Desa Suites
Goodway Hotels & Resort
Bualu Hotel
Century Benoa Resort
Club Med
Sari Segara Resort
Sonni Puteri Galeria Bali
Swiss Bell
Vila Bintang
Vila Sekar Nusa

Hotel di LEGIAN

Bintang Lima
Padma Hotel Bali

Bintang Empat
Alam Kul Kul Boutique Resort
Jayakarta Beach Resort & Spa

Bintang Tiga
Adi Dharma Cottages
All Seasons Resort Legian
Bali Niksoma
Bali Mandira
Casa Padma Suites
Grand Istana Rama Hotel
Hotel Club Bali Residence
Kumala Pantai
Kuta Lagoon Resort
Legian Beach Hotel
The Lokha Legian
Rama Garden Hotel
White Rose Hotel

Bintang Dua
Bali Sorgawi Hotel
Barong Kuta Hotel
Champlung Mas Hotel
Dewi Sri Cottages
Legian Paradiso Hotel
Samsara Hotel & Spa
Puri Raja Beach Hotel
Saphir Mabisa Inn

Hotel Bintang Satu
Sayang Maha Mertha Hotel

Melati Tiga
Bali Sorgawi Hotel
Legian Express Hotel
Restu Bali Hotel
Kuta Bungalows
Loji Garden Hotel
Matahari Bungalow
Puri Etnik Hotel
Puri Wisata Bungalows
Vilarisi Hotel
Adika Sari Bungalows
Baleka Beach Resort
Suriwathi Beach Hotel
Sinar Bali
Bruna Beach Hotel
Kumala Hotel
Kusnadi Hotel
Legian Vilage Hotel
Sing Ken Ken Hotel
Sri Kusuma Hotel

Melati Dua
Bamboo Bed & Breakfast
Aquarius Star Hotel
Sinar Bali

Hotel di Ubud

Hotel Bintang Lima
Amandari
Four Season Resort Sayan
Kamandalu Resort & Spa
Maya Ubud Resort
Puri Wulandari

Hotel Bintang Empat & Tiga
Arma Resort
Begawan Girl Astate
Cahaya Dewata Resort
Camplung Sari
Ibah Luxury Villas
Komaneka
Lorin Vila Resort Saba Bai
Natura Resort & Spa
Pertiwi Bungalow
Pita Maha Hotel
Royal Pitamaha
The Chedi
Tjampuhan Hotel

Hotel Bintang Dua
Garden View Cottage Hotel
Puri Dalem Cottages Hotel

Melati Tiga
Ulun Carik
Warsa
Yulia

Hotel di Singaraja

Hotel Bintang Lima
Matahari Beach Resort

Hotel Bintang Empat & Tiga
Aneka Bagus Resort & Spa
Damai Hotel
Mimpi Resort
Melka Excelsior Hotel

Hotel di CANDIDASA & TULAMBEN

Alila Manggis
Puri Bagus Candidasa Hotel Bali
Rama Candidasa Resort & Spa
The Nirwana Resort & Spa
Alam Asmara Dive Resort
Amankila Resort
Candi Beach Cottage Hotel Bali
Water Garden Cottages Hotel
Kubu Bali Resort
Hotel Indra Udhyana
Park Resort Candidasa
Kelapa Mas Homestay
Pondok Bambu Bungalow Candidasa
Puri Pudak Bungalow
Mimpi Resort Tulamben hotel Bali